Nama :aprianingsih
Npm
:21213199
Kelas :1EB23
PRODUK
DOMESTIK BRUTO (GROSS DOMESTIC PRODUCT)
Pengertian Produk Dometik Bruto (Gross Domestic Product)
Produk Domestik bruto
(Gross Domestic Product ) adalah penghitungan yang digunakan oleh suatu negara sebagai
ukuran utama bagi aktivitas perekonomian nasionalnya, tetapi pada dasarnya GDP
mengukur seluruh volume produksi dari suatu wilayah (negara) secara geografis.
Menurut Beberapa Para
Ahli
Menurut McEachern (2000:146), Produk Domestik Bruto atau Gross Domestic Product
(GDP) artinya mengukur nilai pasar dari barang dan jasa akhir yang diproduksi
oleh sumber daya yang berada dalam suatu negara selama jangka waktu tertentu,
biasanya satu tahun. GDP juga dapat digunakan untuk mempelajari perekonomian dari
waktu ke waktu atau untuk membandingkan beberapa perekonomian pada suatu saat.
Menurut Samuelson (2002), PDB adalah jumlah output total yang
dihasilkan dalam batas wilayah suatu negara dalam satu tahun. PDB mengukur
nilai barang dan jasa yang diproduksi di wilayah suatu negara tanpa membedakan
kewarganegaraan pada suatu periode waktu tertentu. Dengan demikian warga negara
yang bekerja di negara lain, pendapatannya tidak dimasukkan kedalam PDB.
Sebagai gambaran, PDB Indonesia baik oleh warga negara Indonesia (WNI) maupun
warga negara asing (WNA) yang ada di Indonesia tetapi tidak diikutsertakan
produk WNI di luar negeri
Tipe-Tipe Produk Dometik Bruto
(Gross Domestic Product)
Ada dua tipe PDB/ GDP, yaitu :
Ada dua tipe PDB/ GDP, yaitu :
1.
GDP dengan harga berlaku atau GDP nominal, yaitu nilai barang dan jasa
yang dihasilkan suatu negara dalam suatu tahun dinilai menurut harga yang
berlaku pada tahun tersebut.
2.
GDP dengan harga tetap atau GDP
riil, yaitu nilai barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam suatu
tahun dinilai menurut harga yang berlaku pada suatu tahun tertentu yang
seterusnya digunakan untuk menilai barang dan jasa yang dihasilkan pada
tahun-tahun lain Angka-angka GDP merupakan hasil perkalian jumlah produksi (Q)
dan
harga (P), kalau harga-harga naik dari tahun ke tahun karena inflasi, maka besarnya GDP akan naik pula, tetapi belum tentu kenaikan tersebut menunjukkan jumlah produksi (GDP riil). Mungkin kenaikan GDP hanya disebabkan oleh kenaikan harga saja, sedangkan volume produksi tetap atau merosot.
harga (P), kalau harga-harga naik dari tahun ke tahun karena inflasi, maka besarnya GDP akan naik pula, tetapi belum tentu kenaikan tersebut menunjukkan jumlah produksi (GDP riil). Mungkin kenaikan GDP hanya disebabkan oleh kenaikan harga saja, sedangkan volume produksi tetap atau merosot.
Menghitung Produk
Domestik Bruto / PDB / Produk Domestik Kotor
Menurut McEachern
(2000:147) PDB dapat dihitung dengan memakai dua pendekatan, yaitu pendekatan
pengeluaran dan pendekatan pendapatan.
Rumus umum untuk PDB
dengan pendekatan
pengeluaran adalah:
Menurut McEachern
(2000:149) untuk memahami pendekatan pengeluaran pada GDP, kita membagi
pengeluaran agregat menjadi empat komponen, konsumsi, investasi, pembelian
pemerintah, dan ekspor netto.
1.
Konsumsi, atau secara lebih spesifik pengeluaran konsumsi perorangan,
adalah pembelian barang dan jasa akhir oleh rumah tangga selama satu tahun.
Contohnya : dry cleaning, potong rambut, perjalanan udara, dsb.
2.
Investasi, atau secara lebih spesifik investasi domestik swasta bruto,
adalah belanja pada barang kapital baru dan tambahan untuk persediaan.
Contohnya : bangunan
dan mesin baru yang dibeli perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa.
3.
Pembelian pemerintah, atau secara
lebih spesifik konsumsi dan investasi bruto pemerintah, mencakup semua belanja
semua tingkat pemerintahan pada barang dan jasa, dari pembersihan jalan sampai
pembersihan ruang pengadilan, dari buku perpustakaan sampai upah petugas
perpustakaan. Di dalam pembelian pemerintah ini tidak mencakup keamanan sosial,
bantuan kesejahteraan, dan asuransi pengangguran. Karena pembayaran tersebut
mencerminkan bantuan pemerintah kepada penerimanya dan tidak mencerminkan
pembelian pemerintah.
4.
Ekspor netto, sama
dengan nilai ekspor barang dan jasa suatu negara dikurangi dengan impor barang
dan jasa negara tersebut. Ekspor netto tidak hanya meliputi nilai perdagangan
barang tetapi juga jasa.
Dalam pendekatan pengeluaran, pengeluaran agregat negara sama dengan penjumlahan konsumsi, C, investasi, I, pembelian pemerintah, G, dan ekspor netto, yaitu nilai ekspor, X, dikurangi dengan nilai impor, M, atau (X-M).
Penjumlahan komponen tersebut menghasilkan pengeluaran agregat, atau GDP:
C + I + G + (X-M) = Pengeluaran agregat = GDP
GDP berdasarkan Pendekatan Pendapatan.
Menurut McEachern (2000:151) pendapatan agregat sama dengan penjumlahan semua pendaptan yang diterima pemilik sumber daya dalam perekonomian (karena sumber dayanya digunakan dalam proses produksi). Sistem pembukuan double-entry dapat memastikan bahwa nilai output agregat sama dengan pendapatan agregat yang dibayarkan untuk sumber daya yang digunakan dalam produksi output tersebut: yaitu upah, bunga, sewa, dan laba dari produksi.
Jadi kita dapat mengatakan bahwa:
Pengeluaran agregat = GDP = Pendapatan agregat
Dalam pendekatan pengeluaran, pengeluaran agregat negara sama dengan penjumlahan konsumsi, C, investasi, I, pembelian pemerintah, G, dan ekspor netto, yaitu nilai ekspor, X, dikurangi dengan nilai impor, M, atau (X-M).
Penjumlahan komponen tersebut menghasilkan pengeluaran agregat, atau GDP:
C + I + G + (X-M) = Pengeluaran agregat = GDP
GDP berdasarkan Pendekatan Pendapatan.
Menurut McEachern (2000:151) pendapatan agregat sama dengan penjumlahan semua pendaptan yang diterima pemilik sumber daya dalam perekonomian (karena sumber dayanya digunakan dalam proses produksi). Sistem pembukuan double-entry dapat memastikan bahwa nilai output agregat sama dengan pendapatan agregat yang dibayarkan untuk sumber daya yang digunakan dalam produksi output tersebut: yaitu upah, bunga, sewa, dan laba dari produksi.
Jadi kita dapat mengatakan bahwa:
Pengeluaran agregat = GDP = Pendapatan agregat
Suatu produk jadi biasanya diproses oleh beberapa perusahaan dalam
perjalanannya menuju konsumen. Meja kayu, misalnya, mulanya sebagai kayu
mentah, kemudian dipotong oleh perusahaan pertama, dipotong sesuai kebutuhan
mebel oleh perusahaan kedua, dibuat meja oleh perusahaan ketiga, dan dijual
oleh perusahaan keempat. Double counting dihindari dengan cara hanya
memperhitungkan nilai pasar dari meja pada saat dijual kepada pengguna akhir
atau dengan cara menghitung nilai tambah pada setiap tahap produksi. Nilai
tambah dari setiap perusahaan sama dengan harga jual barang perusahaan tersebut
dikurangi dengan jumlah yang dibayarkan atas input perusahaan lain.
Sumber :
http://mbegedut.blogspot.com/2013/01/pengertian-produk-domestik-bruto.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar