APRIANINGSIH
21213199
1EB23
SITEM
PEREKONOMIAN KAPITALIS (LIBERALISME)
Sistem Perekonomian
Kapitalis (Liberalisme)
Liberalisme adalah ideologi yang didasarkan
pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai polittik yang utama. Nilai inti
dari liberalisme adalah individualisme, rasionalisme, kebebasan, keadilan dan
toleransi. Liberal percaya bahwa manusia adalah yang pertama dan utama,
individual, membantu dengan alasan, menyuatakan bahwa setiap individu akan
menikmati kemungkinan kebebasan maksimum yang tetap dengan merdeka. Walaupun
individu dilahirkan sederajat dalam arti moral yang sama, dan harus menikmati
kesempatan yang sama, tetapi mereka harus di beri penghargaan sesuai level
talenta atau kemampuan bekerja, yang merupakan prinsip ”meritokrasi”.
Kapitalisme adalah suatu paham yang
meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan
sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan
intervensi pasar guna keuntungan bersama. Walaupun demikian, kapitalisme
sebenarnya tidak memiliki definisi universal yang bisa diterima secara luas.
Beberapa ahli mendefinisikan kapitalisme
sebagai sebuah sistem yang mulai berlaku di Eropa pada abad ke-16 hingga abad
ke-19, yaitu pada masa perkembangan perbankan komersial Eropa di mana
sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan
tertentu yang dapat memiliki maupun melakukan perdagangan benda milik pribadi,
terutama barang modal, seperti tanah dan manusia guna proses perubahan dari
barang modal ke barang jadi. Untuk mendapatkan modal-modal tersebut, para
kapitalis harus mendapatkan bahan baku dan mesin dahulu, baru buruh sebagai
operator mesin dan juga untuk mendapatkan nilai lebih dari bahan baku tersebut.
Tokoh penemu paham liberal
1.
Niccolò Machiavelli
Niccolò Machiavelli (Florence, 1469-1527), adalah seorang tokoh liberal
terbaik yang dikenal dengan pendapatnya, Il Principe. Dia adalah pendiri realis
filosofi politis yang mendukung pemerintahan republik, angkatan perang negara,
divisi kekuasaan, perlindungan milik perorangan, dan pengekangan pembelanjaan
pemerintah sebagai kebebasan suatu republik. Ia menulis secara ekstensif pada
kebutuhan individu sebagai suatu karakteristik yang penting sebagai
kepemerintahan yang stabil. Ia berargumentasi bahwa sebaik-baiknya kebebasan
individu masih perlu dilindungi oleh legitasi serta regulasi yang baik dari
pemerintah. Dan bahwa orang-orang yang bisa memimpin hukum dengan benar
hanyalah orang-orang yang segala ambisi dan keegoisannya bisa dihilangkan dalam
memelihara kebebasannya tersendiri. Dia berpendapat bahwa realisme adalah pusat
gagasan dalam pelajaran politis dan mengutamakan kebebasan republik (individu)
dibawah prinsip.
Anti statis kaum liberal melihat pesan-pesan utama yang dikatakan Machiavelli’s bahwa ia berbicara atas nama suatu status yang kuat dibawah seorang pemimpin kuat, yang menggunakan maksud apapun untuk menetapkan posisinya, sedangkan liberalisme adalah suatu ideologi dari kebebasan individu dan aneka pilihan sukarela atau fakultatif. Beberapa hasil karyanya adalah Il Principe – 1513 dan Discorsi Sopra la Prima Deca di Tito Livio, 1512-1517.
Anti statis kaum liberal melihat pesan-pesan utama yang dikatakan Machiavelli’s bahwa ia berbicara atas nama suatu status yang kuat dibawah seorang pemimpin kuat, yang menggunakan maksud apapun untuk menetapkan posisinya, sedangkan liberalisme adalah suatu ideologi dari kebebasan individu dan aneka pilihan sukarela atau fakultatif. Beberapa hasil karyanya adalah Il Principe – 1513 dan Discorsi Sopra la Prima Deca di Tito Livio, 1512-1517.
2.
Desiderius Erasmus
Desiderius Erasmus (Belanda, 1466-1536) adalah seorang tokoh liberal yang
dikenal sebagai orang yang berperikemanusiaan. Dia berkata bahwa masyarakat
Erasmusian melintasi Eropa sampai pada taraf tertentu sebagai jawaban atas
pergolakan reformasinya. Ia berhadapan dengan kebebasan berkehendak. Dalam
karyanya De Libero Arbitrio Diatribe Sive Collatio (1524), ia meneliti dengan
kepintaran dan kejeniusannya untuk menghapus keterbatasan hidup sebagai
pernyataan atas kebebasan manusia. Beberapa hasil karyanya Lof d Zotheid, 1509
dan De Libero Arbitrio Diatribe Sive Collatio, 1524.
Ada 3Prinsip – Prinsip Sistem Kapitalisme
1.
Mencari keuntungan dgn berbagai cara dan
sarana kecuali yg terang-terangan dilarang negara krn merusak masyarakat
seperti heroin dan semacamnya.
2.
Mendewakan hak milik pribadi dgn membuka jalan
selebar-lebarnya agar tiap orang mengerahkan kemampuan dan potensi yg ada utk
meningkatkan kekayaan dan memeliharanya serta tidak ada yg menjahatinya. Karena
itu dibuatlah peraturan-peraturan yg cocok utk meningkatkan dan melancarkan
usaha dan tidak ada campur tangan negara dalam kehidupan ekonomi kecuali dalam
batas-batas yg yg sangat diperlukan oleh peraturan umum dalam rangka
mengokohkan keamanan.
3.
Perfect Competition .
Price system sesuai dgn tuntutan permintaan dan kebutuhan dan bersandar pada peraturan harga yg diturunkan dalam rangka mengendalikan komoditas dan penjualannya.
Price system sesuai dgn tuntutan permintaan dan kebutuhan dan bersandar pada peraturan harga yg diturunkan dalam rangka mengendalikan komoditas dan penjualannya.
Ciri-ciri
Kapitalisme :
1.
Pengakuan yang luas atas hak-hak pribadi.
2.
Pemilikan alat-alat produksi di tangan
individu.
3.
Inidividu bebas memilih pekerjaan/ usaha
yang dipandang baik bagi dirinya.
4.
Perekonomian diatur oleh mekanisme pasar
5.
Pasar berfungsi memberikan “signal”
kepda produsen dan konsumen dalam bentuk harga-harga.
6.
Campur tangan pemerintah diusahakan
sekecil mungkin. “The Invisible Hand” yang mengatur perekonomian menjadi
efisien.
7.
Barang dan jasa diperdagangkan di pasar bebas
(free market) yang bersifat kompetitif.
8.
modal kapitali (baik uang maupun
kekayaan lain) diinvestasikan ke dalam berbagai usaha untuk menghasilkan laba
(profit).
Kelebihan – kelebihan Ekonomi Kapitalisme:
·
Lebih efisien dalam memanfaatkan
sumber-sumber daya dan distribusi barang-barang.
·
Kreativitas masyarakat menjadi tinggi
karena adanya kebebasan melakukan segala hal yang terbaik dirinya.
·
Pengawasan politik dan sosial minimal,
karena tenaga waktu dan biaya yang diperlukan lebih kecil.
Kelemahan-kelemahan
Kapitalisme
·
Sistem ini mengabaikan etika dan sosial.
(Akan diuraikan dibawah)
·
Berlandaskan sistem ribawi.
·
Tidak ada persaingan sempurna. Yang ada
persaingan tidak sempurna dan persaingan monopolistik.
·
Sistem harga gagal mengalokasikan
sumber-sumber secara efisien, karena adanya faktor-faktor eksternalitas (tidak
memperhitungkan yang menekan upah buruh dan lain-lain).
Kecenderungan
Bisnis dalam Kapitalisme
Perkembangan bisnis
sangat dipengaruhi oleh sistem ekonomi yang berlaku. Kecenderungan bisnis dalam
kapitalisme dewasa ini adalah: adanya spesialisasi, adanya produksi massa,
adanya perusahaan berskala besar, adanya perkembangan penelitian.
Runtuhnya Sistem
Ekonomi Kapitalisme
Dengan kegagalan
kapitalisme membangun kesejahteran umat manusia di muka bumi, maka isu kematian
ilmu ekonomi semakin meluas di kalangan para cendikiawan dunia. Banyak pakar
yang secara khusus menulis buku tentang The Death of Economics tersebut, antara
lain Paul Omerod, Umar Ibrahim Vadillo, Critovan Buarque, dan sebagainya.
Paul Omerod dalam
buku The Death of Economics (1994). Menuliskan bahwa ahli ekonomi terjebak pada
ideologi kapitalisme yang mekanistik yang ternyata tidak memiliki kekuatan
dalam membantu dan mengatasi resesi ekonomi yang melanda dunia. Mekanisme pasar
yang merupakan bentuk dari sistem yang diterapkan kapitalis cenderung pada
pemusatan kekayaan pada kelompok orang tertentu.
Mirip dengan buku
Omerod, muncul pula Umar Vadillo dari Scotlandia yang menulis buku, ”The Ends
of Economics” yang mengkritik secara tajam ketidakadilan sistem moneter
kapitalisme. Kapitalisme justru telah melakukan ”perampokan” terhadap kekayaan
negara-negara berkembang melalui sistem moneter fiat money yang sesungguhnya
adalah riba.
·
Dari berbagai analisa para ekonom dapat
disimpulkan, bahwa teori ekonomi telah mati karena beberapa alasan:
Pertama, teori ekonomi Barat (kapitalisme) telah menimbulkan ketidakadilan ekonomi yang sangat dalam, khususnya karena sistem moneter yang hanya menguntungkan Barat melalui hegemoni mata uang kertas dan sistem ribawi.
Pertama, teori ekonomi Barat (kapitalisme) telah menimbulkan ketidakadilan ekonomi yang sangat dalam, khususnya karena sistem moneter yang hanya menguntungkan Barat melalui hegemoni mata uang kertas dan sistem ribawi.
·
Kedua, Teori ekonomi kapitalisme tidak mampu
mengentaskan masalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan.
·
Ketiga, paradigmanya tidak mengacu
kepada kepentingan masyarakat secara menyeluruh, sehingga ada dikotomi antara
individu, masyarakat dan negara.
·
Keempat, Teori ekonominya tidak mampu
menyelaraskan hubungana antara negara-negara di dunia, terutama antara
negara-negara maju dan negara berkembang.
·
Kelima, terlalaikannya pelestarian
sumber daya alam.
Alasan-alasan
inilah yang oleh Mahbub al-Haq (1970) dianggap sebagai dosa-dosa para perencana
pembangunan kapitalis. Kesimpulan ini begitu jelas apabila pembahasan teori
ekonomi dihubungkan dengan pembangunan di negara-negara berkembang. Sementara
itu perkembangan terakhir menunjukkan bahwa kesenjangan antara negara-negara
berpendapatan tinggi dan negara-negara berpendapatan rendah, tetap menjadi
indikasi bahwa globalisasi belum menunjukkan kinerja yang menguntungkan bagi
negara miskin. (The World Bank, 2002).
Sejalan dengan
Omerod dan Vadillo, belakangan ini muncul lagi ilmuwan ekonomi terkemuka
bernama E.Stigliz, pemegang hadiah Nobel ekonomi pada tahun 2001. Stigliz
adalah Chairman Tim Penasehat Ekonomi President Bill Clinton, Chief Ekonomi
Bank Dunia dan Guru Besar Universitas Columbia. Dalam bukunya “Globalization
and Descontents”, ia mengupas dampak globalisasi dan peranan IMF (agen utama
kapitalisme) dalam mengatasi krisis ekonomi global maupun lokal. Ia menyatakan,
globalisasi tidak banyak membantu negara miskin. Akibat globalisasi ternyata
pendapatan masyarakat juga tidak meningkat di berbagai belahan dunia. Penerapan
pasar terbuka, pasar bebas, privatisasi sebagaimana formula IMF selama ini
menimbulkan ketidakstabilan ekonomi negara sedang berkembang, bukan sebaliknya
seperti yang selama ini didengungkan barat bahwa globalisasi itu mendatangkan
manfaat.. Stigliz mengungkapkan bahwa IMF gagal dalam misinya menciptakan
stabilitas ekonomi yang stabil.
Karena kegagalan
kapitalisme itulah, maka sejak awal, Joseph Schumpeter meragukan kapitalisme.
Dalam konteks ini ia mempertanyakan, “Can Capitalism Survive”?. No, I do not
think it can. (Dapatkah kapitalisme bertahan ?. Tidak, saya tidak berfikir
bahwa kapitalisme dapat bertahan). Selanjutnya ia mengatakan, ” Capitalism
would fade away with a resign shrug of the shoulders”,Kapitalisme akan
pudar/mati dengan terhentinya tanggung jawabnya untuk kesejahteraan
(Heilbroner,1992).
Sejalan dengan
pandangan para ekonom di atas, pakar ekonomi Fritjop Chapra dalam bukunya, The
Turning Point, Science, Society and The Rising Culture (1999) dan Ervin Laszio
dalam buku 3rd Millenium, The Challenge and The Vision (1999), mengungkapkan
bahwa ekonomi konvensional (kapitalisme) yang berlandaskan sistem ribawi,
memiliki kelemahan dan kekeliruan yang besar dalam sejumlah premisnya, terutama
rasionalitas ekonomi yang telah mengabaikan moral. Kelemahan itulah menyebabkan
ekonomi (konvensional) tidak berhasil menciptakan keadilan ekonomi dan
kesejahteraan bagi umat manusia. Yang terjadi justru sebaliknya, ketimpangan
yang semakin tajam antara negara-negara dan masyarakat yang miskin dengan
negara-negara dan masyarakat yang kaya, demikian pula antara sesama anggota
masyarakat di dalam suatu negeri. Lebih lanjut mereka menegaskan bahwa untuk
memperbaiki keadaan ini, tidak ada jalan lain kecuali mengubah paradigma dan
visi, yaitu melakukan satu titik balik peradaban, dalam arti membangun dan
mengembangkan sistem ekonomi yang memiliki nilai dan norma yang bisa dipertanggungjawabkan.
Sumber
http://ikhsanizumara049bhe.wordpress.com/2012/08/11/sistem-ekonomi-kapitalis/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar